KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

DIREKTORAT PERBENIHAN PERKEBUNAN

19/07/2018 - 11:11 AM

PERSILANGAN ANTARGENUS MENGHASILKAN VARIETAS TEBU UNGGUL (PS 091 DAN PS 092)

Di Publish Pada : 14/11/2017 | Kategori : Perkebunan

Jakarta - Perjalanan waktu telah dilalui bangsa Indonesia untuk menjadikan dirinya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pembangunan di berbagai sektor telah dilaksanakan guna mencapai tujuan itu termasuk pembangunan di sektor pertanian dan terkhusus subsektor perkebunan.  Pembangunan  perkebunan sejatinya sangatlah tergantung pada banyak faktor diantaranya : faktor petani, sarana produksi pertanian (saprotan), faktor tata niaga, kondisi pasar domestik dan internasional, regulasi pemerintah dan masih banyak lagi. 

 Penyediaan benih perkebunan yang berkualitas dan tepat sesuai agroklimat mutlak diperlukan sebagai sarana produksi bagi keberhasilan perkebunan. Kendala dan permasalahan yang sering dihadapi pada perbenihan tanaman perkebunan diantaranya : masih banyak beredarnya benih ilegitim, rendahnya penggunaan benih bermutu di lapangan terutama benih yang sudah dirilis, ketersediaan benih bermutu yang masih kurang untuk tanaman-tanaman tertentu,  lemahnya penelitian dan pengembangan perbenihan perkebunan serta dukungan pendanaannya, aplikasi kebijakan yang dipahami secara berbeda antar stakeholder,fanatiknya petani dengan varietas tertentu yang boleh jadi kurang sesuai lagi untuk agroklimat di daerah tersebut, dll. Meskipun kendala, kelemahan maupun tantangan perbenihan tanaman perkebunan menghadang di depan mata, namun bukan berarti perbenihan perkebunan harus stagnan. Diperlukan inovasi baru agar produksi dan produktivitas tanaman perkebunan bisa meningkat.

Pada hakekatnya tujuan dari setiap program pemuliaan tebu dapat ditinjau, baik dari segi ekonomi maupun dari segi biologi. Dari segi ekonomi, tujuan utamanya adalah untuk memilih varietas-varietas yang dapat memberikan keuntungan maksimal kepada pabrik gula maupun pada petani (Skinner, 1971). Sedang dari segi biologi bertujuan untuk mendapatkan varietas unggul baru dengan sifat-sifat keturunan yang lebih baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari pada varietas komersial yang diusahakan pada masa itu.

 Pemuliaan tebu di Indonesia secara umum bertujuan untuk memperoleh varietas-varietas unggul dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Hasil tebu dan rendemen tinggi.
  2. Tahan dan atau toleran terhadap penyakit dan hama penting.
  3. Mempunyai sifat-sifat agronomi yang diharapkan, seperti perkecambahan yang merata, keprasan yang baik, sogolannya sedikit, tidak atau sedikit berbunga, tahan rebah, dan cepat menutup tanah.
  4. Toleran terhadap  kondisi  lingkungan  bermasalah  seperti  curah  hujan, keadaan kering, pH rendah, lahan dengan kadar garam tinggi, dll.

 Harapan dari pengguna maupun praktisi pertanaman tebu tentu saja mendapatkan varietas baru dengan keunggulan yang beragam, namun,  tidak mudah merakit suatu varietas tebu yang unggul dengan semua sifat. Hingga kini, varietas tebu unggul komersial yang sudah dilepas dan dikembangkan secara luas di wilayah pengembangan tebu di Indonesia masih belum ada yang benar-benar tahan terhadap beberapa penyakit seperti luka api dan mosaic bergaris.

Di Indonesia pelepasan varietas tebu unggul baru melalui program pemuliaan masih terasa lambat. Varietas unggul komersial yang berkembang saat ini terutama di Pulau Jawa merupakan varietas lama. Seperti PS 864 yang dilepas oleh P3GI pada tahun 2004, PS 881 dilepas pada tahun 2008, KK dilepas pada tahun 2008 dan BL dilepas pada tahun 2004. Oleh karena itu perakitan varietas tebu unggul baru selalu diperlukan untuk menyediakan pilihan-pilihan varietas yang berkesinambungan kepada masyarakat.

Sejak tahun 2009, P3GI melakukan terobosan baru dalam proses perakitan varietas tebu unggul baru melalui persilangan tebu komersial dengan kerabat liar, yaitu Erianthus arundinaceus. Kekayaan material genetik Saccharum complex yang  dimiliki  P3GI  dimanfaatkan  kembali  secara  optimal  seperti  pada jaman Hindia Belanda untuk memenuhi tuntutan praktisi yang semakin beragam. Dengan memanfaatkan efek “heterosis,” persilangan tebu dengan Erianthus arundinaceus ditujukan untuk memperoleh keturunan yang lebih unggul dari induknya (P3GI, 2016).

Erianthus arundinaceus (Retz dalam Widyasari, 2016) Jesw menjadi pilihan sebagai salah satu tetua persilangan dalam program perakitan varietas tebu unggul di P3GI karena mempunyai beberapa sifat penting yang berguna dalam program perbaikan genetik tebu. Erianthus arundinaceus (Retz dalam P3GI, 2016) Jesw mempunyai sifat daya adaptasi yang luas, mulai dari kondisi lingkungan yang basah sampai kering, tahan dingin, tahan kepras, kadar sabut tinggi, pertumbuhan yang cepat, tegak, perakaran kuat, vigor dan komponen produksi yang tinggi (Piperidis et al., 2000; Zhang et al., 2009 dalam P3GI,, 2016).

Sementara itu, Roach (1986) dalam P3GI, (2016) menyatakan bahwa tebu liar dan kerabatnya termasuk Erianthus dapat menjadi sumber gen ketahanan terhadap penyakit. Erianthus arundinaceus memiliki gen ketahanan terhadap beberapa penyakit penting pada tebu tebu antara lain: penyakit mosaic yang disebabkan oleh SCMV (Grisham, 1992 dalam P3GI,, 2016), penyakit busuk merah (red rot) yang disebabkan oleh Colletotrichum falcatum (Ram et al., 2001 dalam P3GI, 2016), dan penyakit karat yang disebabkan oleh Puccinia melanocephala (Li et al., 2005; Wang et al., 2013 dalam P3GI, 2016). Putra et al. (2015b) dalam P3GI, 2016 melaporkan bahwa dari hasil infeksi secara buatan menunjukkan bahwa Erianthus arundinaceus sangat tahan terhadap SCSMV sehingga dapat digunakan sebagai  sumber gen ketahanan dalam persilangan tebu untuk mendapatkan varietas tebu tahan SCSMV. Oleh karena itu, saat ini genus Erianthus section Ripidium digolongkan dalam tetua elite karena memiliki beberapa karakter yang baik untuk digunakan dalam program introgresi dalam memperluas dasar genetik tetua persilangan atau untuk memasukkan sifat-sifat yang diinginkan ke tebu komersial masa kini.

Hasil persilangan tebu komersial dengan Erianthus arundinaceus tersebut menunjukkan potensi rendemen dan produksi yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan potensi rendemen beberapa klon lebih dari 12% bahkan ada yang mencapai 14%. Selain itu beberapa klon yang lain menunjukkan potensi hablur lebih dari 150 ku/ha di beberapa lokasi pengujian.

Dua varietas yang berhasil dilepas oleh P3GI pada Tahun 2016, PS 091 dan  PS 092 serta klon harapan yang tidak berhasil dilepas, PS 09-0401, merupakan hasil persilangan antar genus yaitu  tebu  komersial  dengan  Erianthus  arundinaceus.  Ketiga  varietas tersebut mempunyai potensi hablur di atas 100 ku/ha di ekolokasi yang cocok. PS 091 mempunyai keunggulan potensi rendemen 14% di lahan tegalan yang bertekstur ringan dan tahan terhadap penyakit streak mosaic. PS 092 memiliki keunggulan tahan kepras, hasil tebu mencapai 1.200 ku/ha, rendemen mencapai 13% dan hablur mencapai 150 ku/ha.

Dengan adanya keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh PS 091 dan  PS 092 diharapkan dapat dimanfaatkan oleh petani dan industri gula Nasional guna pencapaian swasembada gula nasional serta tujuan komplementer lainnya terutama sabut tebu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

 

Fajar Hufail, SP.

PBT Ahli Muda Ditjen Perkebunan

 

Sumber :

Tim Pelepasan Varietas Tebu P3GI. 2016. Usulan Pelepasan Varietas Tebu Unggul Harapan PS 09-1508, PS 09-1416 dan PS 09-0401.

Widyasari, W.B. 2016. Pemuliaan Tanaman Tebu : Arah, Strategi dan Permasalahannya. P3GI


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 4143

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Lantai 3, Ragunan - Jakarta Selatan 12550 - Indonesia
Telp. : (021) 7815681 Fax : (021) 7815681. Email : perbenihan@pertanian.go.id